Sedikit catatan untuk
diri sendiri.
Saya termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh keadaan,
namun merasa sangat kesulitan untuk mengikuti arus keadaan yang ada. Jadilah,
saya mengambang pada diam yang tak jelas. Jadilah, saya seakan-akan ingin
menjadi seperti yang lain, namun tak mampu untuk menjadi yang seperti itu. Jadilah,
saya terdiam melawan keadaan, terdiam melihat keramaian, terdiam menikmati
ketidakmampuan yang ada. Jadilah, saya tak seperti yang lain, namun memiliki
pikiran dan perasaan yang tak terlalu berbeda dari yang lain. Jadilah, saya
sedemikian adanya.
Perlahan-lahan, saya semakin merasa mampu untuk mengikuti
keadaan yang sedang diramaikan oleh orang lain, oleh media, dan oleh apapun
yang saya lihat di dunia di sekitar saya. Dari ini, akhirnya saya mulai
berpikir dan menimbang pikiran itu dengan perasaan, saya harus melawan keadaan.
Kedengaran seperti sok-sokan, memang.
Namun setidaknya inilah yang ternyata saya dapatkan dari pelajaran di buku
Kehidupan pada Bab Cinta. Dengan cinta, saya mengawali perjalanan dan pelajaran
hidup ini dari mencintai diri saya sendiri. Sekarang, saya bahkan
berandai-andai kalau semisal saya tak mampu mencintai saya sendiri, mungkin
karena ketidakmampuan saya mengikuti keadaan, saya akan memaksakan diri untuk
sebisa mungkin sama seperti yang lain. Nyatanya tak sedemikian. Saya memilih
menikmati Bab Cinta pada Buku Kehidupan ini untuk semaksimal mungkin mencintai
diri saya sendiri, agar ketidakmampuan ini tak menghancurkan saya di hari
kemudian.
Muncul sebuah hal yang saya anggap masalah, yaitu jika saya
yang sudah menikmati cinta ini, suatu detik kemudian akan menimbulkan benci. Benci
terhadap orang lain, benci terhadap keadaan, atau yang paling saya takutkan
adalah benci terhadap diri sendiri. Hal ini pada suatu kadang, akhirnya menemui
beberapa hal lain sebagai yang saya anggap “obat”nya. Yaitu kesadaan bahwa saya
hanya memiliki hari ini dan hanya hari ini. Karena kemarin adalah keternyataan
bahwa sebuah hari milikNya telah dipinjamkan kepada saya, dan telah saya
kembalikan kepada Pemiknya. Sedangkan besok, saya tak tahu apakah besok Tuhan
akan memberikan satu hari untuk saya, atau akan Ia pinjaman lagi, itu terserah
padaNya. Maka, dari ini, hari ini adalah satu hari yang ku yakini sebagai hari
yang Dia berikan kepada saya, dan saya sudah sepatutnya berterimakasih
kepadaNya atas hari kemarin yang telah Ia pinjamkan untuk saya, serta hari ini
yang telah Ia berikan untuk saya. Dan, dari pada kedua hari itulah, saya
akhirnya sadar-sesadar-sadarnya bahwa hari yang sedang saya miliki ini harus
saya pergunakan untuk memujiNya, bersyukur atasNya, dan berdoa padaNya; semoga
besok masih ada hari yang Dia berkenan
untuk setidaknya meminjamkan hari itu untuk saya berdoa lagi tentang ini, untuk
bersyukur lagi tentang ini, dan untuk bertasbih memujiNya lagi tentang ini.