ul#list-nav { list-style:none; margin:20px; padding:0; width:525px } ul#list-nav li { display:inline } ul#list-nav li a { text-decoration:none; padding:5px 0; width:100px; background:#FF0099; color:#eee; float:left; text-align:center; border-left:1px solid #fff; -moz-border-radius: 5px; } ul#list-nav li a:hover { background:#FF6699; color:#000 -moz-border-radius: 5px; }

Friday, 17 January 2014

Catatan Perjalanan Mempelajari Bab Cinta Pada Buku Kehidupan

Sedikit catatan untuk diri sendiri.

Saya termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh keadaan, namun merasa sangat kesulitan untuk mengikuti arus keadaan yang ada. Jadilah, saya mengambang pada diam yang tak jelas. Jadilah, saya seakan-akan ingin menjadi seperti yang lain, namun tak mampu untuk menjadi yang seperti itu. Jadilah, saya terdiam melawan keadaan, terdiam melihat keramaian, terdiam menikmati ketidakmampuan yang ada. Jadilah, saya tak seperti yang lain, namun memiliki pikiran dan perasaan yang tak terlalu berbeda dari yang lain. Jadilah, saya sedemikian adanya.

Perlahan-lahan, saya semakin merasa mampu untuk mengikuti keadaan yang sedang diramaikan oleh orang lain, oleh media, dan oleh apapun yang saya lihat di dunia di sekitar saya. Dari ini, akhirnya saya mulai berpikir dan menimbang pikiran itu dengan perasaan, saya harus melawan keadaan. Kedengaran seperti sok-sokan, memang. Namun setidaknya inilah yang ternyata saya dapatkan dari pelajaran di buku Kehidupan pada Bab Cinta. Dengan cinta, saya mengawali perjalanan dan pelajaran hidup ini dari mencintai diri saya sendiri. Sekarang, saya bahkan berandai-andai kalau semisal saya tak mampu mencintai saya sendiri, mungkin karena ketidakmampuan saya mengikuti keadaan, saya akan memaksakan diri untuk sebisa mungkin sama seperti yang lain. Nyatanya tak sedemikian. Saya memilih menikmati Bab Cinta pada Buku Kehidupan ini untuk semaksimal mungkin mencintai diri saya sendiri, agar ketidakmampuan ini tak menghancurkan saya di hari kemudian.

Muncul sebuah hal yang saya anggap masalah, yaitu jika saya yang sudah menikmati cinta ini, suatu detik kemudian akan menimbulkan benci. Benci terhadap orang lain, benci terhadap keadaan, atau yang paling saya takutkan adalah benci terhadap diri sendiri. Hal ini pada suatu kadang, akhirnya menemui beberapa hal lain sebagai yang saya anggap “obat”nya. Yaitu kesadaan bahwa saya hanya memiliki hari ini dan hanya hari ini. Karena kemarin adalah keternyataan bahwa sebuah hari milikNya telah dipinjamkan kepada saya, dan telah saya kembalikan kepada Pemiknya. Sedangkan besok, saya tak tahu apakah besok Tuhan akan memberikan satu hari untuk saya, atau akan Ia pinjaman lagi, itu terserah padaNya. Maka, dari ini, hari ini adalah satu hari yang ku yakini sebagai hari yang Dia berikan kepada saya, dan saya sudah sepatutnya berterimakasih kepadaNya atas hari kemarin yang telah Ia pinjamkan untuk saya, serta hari ini yang telah Ia berikan untuk saya. Dan, dari pada kedua hari itulah, saya akhirnya sadar-sesadar-sadarnya bahwa hari yang sedang saya miliki ini harus saya pergunakan untuk memujiNya, bersyukur atasNya, dan berdoa padaNya; semoga besok masih ada hari yang  Dia berkenan untuk setidaknya meminjamkan hari itu untuk saya berdoa lagi tentang ini, untuk bersyukur lagi tentang ini, dan untuk bertasbih memujiNya lagi tentang ini.

No comments:

Post a Comment